Pengertian Budaya Massa
Dalam arti sebenarnya, Budaya Massa adalah dianggap sebagai milik
mayoritas masyarakat tak berbudaya dan tak berpendidikan. Dalam
sosiologi, istilah “massa” mengandung pengertian kelompok manusia yang
tak bisa dipilah-pilah, bahkan semacam kerumunan (crowd) yang bersifat
sementara dan dapat dikatakan: segera mati. Dalam kelompok manusia yang
seperti ini, identitas seseorang biasanya tenggelam. Masing-masing akan
mudah sekali meniru tingkah laku orang-orang lain yang “sekerumunan.”
Puncak dari tingkah laku mereka akan dilalui, katakanlah maksudnya
selesai, apabila secara fisik mereka sudah lelah dan tujuan bersamanya
tercapai. Banyak pengertian budaya massa dari berbagai ahli diantaranya
:
Menurut Bennet dan Tumin,Kebudayaan Massa adalah “seperangkat ide bersama dan pola
perilaku yang memintas garis sosio-ekonomi dan pengelompokan
sub-kultural dalam suatu masyarakat yang kompleks.
Sementara
menurut aliran Frankfurt, budaya populer adalah budaya massa yang
dihasilkan industri budaya untuk stabilitas maupun kesinambungan
kapitalisme.
Budaya massa adalah budaya populer yang dihasilkan industri produksi
massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan pada khalayak
konsumen. Budaya massa adalah hasil budaya yang dibuat secara massif
demi kepentingan pasar. Budaya massa lebih bersifat massal,
terstandarisasi dalam sistem pasar yang anonim, praktis, heterogen,
lebih mengabdi pada kepentingan pemuasan selera “dangkal”. Zaman dulu
secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa budaya massa adalah simbol
kedaulatan kultural dari orang-orang yang tidak terdidik.
Dari asal katanya Budaya massa merupakan istilah untuk mass
culture,istilah inggris yang berasal dari bahasa Jerman yaitu Masse dan
kultur. Di Eropa budaya massa ditujukan kepada mayoritas masyarakat
Eropa kelas menengah kebawah yang tak terpelajar,seperti kelas pekerja
dan kaum miskin yang disebut mass atau masse. Karena itu istilah budaya
massa di Eropa diidentikkan dengan ejekan atau merendahkan terhadap apa
yang menjadi pilihan-pilihan kaum kelas menengah ke bawah ini.
Pilihan-pilihan itu seperti pilihan produk,ide,perasaan,pikiran dan
sikap masyarakat Eropa yang tidak terpelajar.
Sementara istilah lain yang berlawanan dengan istilah masse
kultur adalah istilah high cultureyang berarti kebudayaan tinggi atau
kebudayaan elit. Disebut kebudayaan elit karena istilah ini digunakan
untuk menyebut atau mengacu kepada kaum terpelajar dan kelas menengah ke
atas di Eropa. Terkait dengan berbagai pilihan produk kesenian dan
segala sesuatu yang berkaitan dengan pikiran dan perasaan mereka yang
menjatuhkan kepada pilihan atas jenis produk simbolik yang bernilai
tinggi.
Jika dibandingkan,pemakaian kedua istilah diatas untuk menyebutkan
perbedaan selera berupa pilihan-pilihan produk antara kedua kelas sosial
diatas. Yaitu antara kaum tidak terpelajar yang sebagian besar adalah
kelas menengah ke bawah dan kaum terpelajar yang masuk dalam golongan
kelas atas. Jelas bahwa pemakaian istilah masse kultur (budaya massa)
mengandung ejekan atau sikap merendahkan terhadap apa yang menjadi
pilihan produk,ide dan pemikiran mayoritas kelas menengah bawah.
* * *
Ciri-ciri Budaya massa (Burhan Bungin,2009: 77-78):
- Nontradisional, yaitu umumnya komunikasi massa berkaitan erat dengan budaya populer. acara-acara infotainment, seperti indonesian idol, Penghuni terakhir, dan sebagainya adalah salah satu contoh karakter budaya massa ini.
- Budaya massa juga bersifat merakyat, tersebar di basis massa sehingga tidak merucut di tingkat elite, namu apabila ada elite yang terlibat dalam proses ini makaitu bagian dari basis assa itu sendiri.
- Budaya massa juga memproduksi budaya massa seperti infotainment adalah produk pemberitaan yang diperuntukan kepada massa secara meluas. Semua orang dapat memanfaatkannya sebagai hiburan umum.
- Budaya massa sangat berhubungan dengan budaya popular sebagai sumber budaya massa. Bahkan secara tegas dikatakan bahwa bukan popular kalau budaya massa artiya budaya tradisional daqpat menjadi budaya popular apabila menjadi budaya massa. Contohnya srimulat, ludruk, maupun campursari. Pada mulanya kesenian tradisional ini berkembang di masyarakat tradisioanal dengan karakter-karakter tradisional, namun ketika kesenian ini dikemas di media massamaka sntuhan popular mendominasi seluruh kesenian tradisional itubaik kostum, latar, dan sebagainya tidak lagi menjadi konsumsi masyarakat pedesaan namun secara massalmenjadi konsumsi semua lapisan masyarakat di pedesaan dan perkotaan.
- Budaya massa, terutama yang diproduksi oleh media massa diproduksi dengan menggunakan biaya yang cukup besar, karena itu dana yang besar harus menghasilkan keuntungan untuk kontinuitas budaya massa itu sendiri, karena itu budaya massa diproduksi secara komersial agar tidak saja menjadi jaminan keberlangsungan sebuah kegiatan budaya massa namun juga menghasilkan keuntungan bagi capital yang diinvestasikan pada kegiatan tersebut.
- Budaya massa juga diproduksi secara eksklusif menggunakan simbo-simbol kelas sehingga terkesan diperuntukan kepada masyarakat modern yang homogen, terbatas dan tertutup. Syarat utama dari eksklusifitas budqaya massa ini adalah keterbukaan dan ketersediaan terlibat dalam perubahan budaya secara massal.
* * *
Contoh Budaya Massa
- Baju Batik : Dalam buku laporan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles, tentang Jawa yang sudah bersifat kanonik (buku induk), The History of Java, batik diletakkan sebagai bagian dari cara penduduk Jawa memproduksi dan mengenakan pakaian, Ia menjelaskan prinsip cara hidup orang Jawa yang ia sebut ”sederhana”, yang bisa memenuhi sendiri semua kebutuhan domestik lingkungannya (sekampung), termasuk berpakaian dengan batik. Sehingga pekerjaan membatik ini sudahlah lama dibuat dan hingga sekarang masih terus berjalan, sehingga demikian, batik bisa disebut istimewa karena mampu bertahan sebagai subkebudayaan Jawa, meski cenderung dideskripsikan oleh Raffles sebagai budaya yang ”sederhana” dan ”tidak menimbulkan daya tarik bagi orang Eropa” Dan batik juga telah ditransformasikan bentuknya dalam hal barang apapun, seperti dijadikan jaket, baju, peralatan rumah tangga dan sebagainya, sehingga budaya yang tadinya primitive, menjadi budaya massa.
- Mesin Uap dan Tenaga Listrik : Sejak ± 1700, dengan ditemukannya mesin uap dan tenaga listrik, hingga 1940an, dianggap sebagai bagian awal perkembangan budaya industri. Masa ini disebut zaman modern. Revolusi industri adalah awal dari cepatnya perkembangan teknologi dalam kehidupan manusia. Perkembangan zaman pencerahan yaitu ilmu pengetahuan dan pandangan rasional di abad-19, tidak hanya ditandai oleh relativitas Einsten dan Psikoanalisa Freud, perkembangan dan penemuan-penemuan teknologi yang belum pernah terjadi telah menyebabkan priode baru: industrialisasi. Awal dimulainya era industrialisasi produksi. Kemudian di abad XX, Frankfurt School, dikenal juga sebagai Neo-Marxis, menyatakan masyarakat massa dihubungkan (diciptakan) ke suatu masyarakat individualis yang terasing dengan tetap menjaga kesatuan melalui budaya industri yang ditangani kapitalisme. Budaya ini terhasil melalui logika massification of product dan homogenization of taste. Sedikit terkesan sinis, Chaney berpendapat konsumerisme menjadi pusat perkembangan sosial modernitas. Dia berpendapat, “priode setengah terakhir abad 19 dan dekade pertama abad 20, tema budaya dasar mengenai masyarakat massa abad ke 20 telah terbentuk, terutama keinginan dari orang-orang biasa untuk menginvestasikan sumber daya dalam memburu gaya.” Dan sekarang dengan kecepatan dan kecanggihan teknologi, maka akses pada informasi bisa cepat didapat, pemanfaatan teknologi ini mengakibatkannya Saat ini dianggap sebagai membaurnya antara realitas dan ilusi (melalui bentukan simulasi, yang kemudian disebut hyper realitas), digital mendominasi berbagai citraan atau visual yang hadir.
* * *
Pengertian Budaya Populer
Williams (1983) mendefinisikan kata ”populer”menjadi empat penegrtian
yaitu (1) banyak disukai orang; (2) jenis kerja rendahan; (3) karya
yang dilakukan untuk menyenangkan orang; (4) budaya yang memang dibuat
oleh orang untuk dirinya sendiri. Sedangkan pengertian budaya popular
dijabarkan dalam berbagai definisi. Budaya pop oleh Antonio Gramsci
(1971) dikaitkan dengan konsep hegemoninya, mengacu pada cara kelompok
dominan dalam suatu masyarakat mendapatkan dukungan dari kelompok
subordinasi melalui proses kepemimpinan, intelektual, dan moral. Budaya pop adalah ”budaya massa”, budaya yang
diproduksi massa untuk konsumsi massa. Untuk itulah, ada relevansi
antara popular culture dengan commercial culture (kebudayaan
komersil). Budaya yang dibutuhkan sifatnya massal (common people),
tentu diproduksi berlandaskan keinginan pasar(komersil). Kebudayaan pop
hanya akan terjadi manakala keinginan pasar menjadi perhatian sentral.
Mendefinisikan “budaya” dan “populer”, yang pada dasarnya adalah
konsep yang masih diperdebatkan, sangat rumit. Definisi itu bersaing
dengan berbagai definisi budaya populer itu sendiri. John Storey, dalam Cultural Theory and Popular Culture,
membahas enam definisi. Definisi kuantitatif, suatu budaya yang
dibandingkan dengan budaya “luhur” (Misalnya: festival-festival kesenian
daerah) jauh lebih disukai. “Budaya pop” juga didefinisikan sebagai
sesuatu yang “diabaikan” saat kita telah memutuskan yang disebut “budaya
luhur”. Namun, banyak karya yang melompati atau melanggar batas-batas
ini misalnya Shakespeare, Dickens, Puccini-Verdi-Pavarotti-Nessun Dorma.
Storey menekankan pada kekuatan dan relasi yang menopang
perbedaan-perbedaan tersebut seperti misalnya sistem pendidikan.
Definisi ketiga menyamakan budaya pop dengan Budaya Massa. Hal ini
terlihat sebagai budaya komersial, diproduksi massal untuk
konsumsi massa. Dari perspektif Eropa Barat, budaya pop dapat dianggap
sebagai budaya Amerika. Atau, “budaya pop” dapat didefinisikan sebagai
budaya “autentik” masyarakat. Namun, definisi ini bermasalah karena
banyak cara untuk mendefinisikan “masyarakat”. Storey berpendapat bahwa
ada dimensi politik pada budaya populer; teori neo-Gramscian “… melihat
budaya pop sebagai tempat perjuangan antara ‘resistansi’ dari kelompok
subordinat dalam masyarakat dan kekuatan ‘persatuan’ yang beroperasi
dalam kepentingan kelompok-kelompok dominan dalam masyarakat.” Suatu
pendekatan postmodernism pada budaya populer “tidak lagi mengenali
perbedaan antara budaya luhur dan budaya populer.”
Storey menekankan bahwa budaya populer muncul dari urbanisasi akibat
revolusi industri, yang mengindentifikasi istilah umum dengan definisi
“budaya massa”. Penelitian terhadap Shakespeare (oleh Weimann atau
Barber Bristol, misalnya) menemukan banyak vitalitas karakteristik pada
drama-drama Shakespeare dalam partisipasinya terhadap budaya populer
Renaissance. Sedangkan, praktisi kontemporer, misalnya Dario Fo dan John
McGrath, menggunakan budaya populer dalam rasa Gramscian yang meliputi
tradisi masyarakat kebanyakan (Ludruk misalnya).
Budaya Pop selalu berubah dan muncul secara unik di berbagai tempat
dan waktu. Budaya pop membentuk arus dan pusaran, dan mewakili suatu
perspektif interdependent-mutual yang kompleks dan nilai-nilai yang
memengaruhi masyarakat dan lembaga-lembaganya dengan berbagai cara.
Misalnya, beberapa arus budaya pop mungkin muncul dari (atau menyeleweng
menjadi) suatu subkultur, yang melambangkan perspektif yang
kemiripannya dengan budaya pop mainstream begitu sedikit. Berbagai hal
yang berhubungan dengan budaya pop sangat khas menarik spektrum yang
lebih luas dalam masyarakat.
* * *
Ciri-ciri budaya populer:
- Tren, sebuah budaya yang menjadi trend dan diikuti atau disukai banyak orang berpotensi menjadi budaya populer;
- Keseragaman bentuk, sebuah ciptaan manusia yang menjadi tren akhirnya diikuti oleh banyak penjiplak. Karya tersebut dapat menjadi pionir bagi karya-karya lain yang berciri sama, sebagai contoh genre musik pop (diambil dari kata popular) adalah genre musik yang notasi nada tidak terlalu kompleks, lirik lagunyasederhana dan mudah diingat;
- Adaptabilitas, sebuah budaya populer mudah dinikmati dan diadopsi oleh khalayak, hal ini mengarah pada tren;
- Durabilitas, sebuah budaya populer akan dilihat berdasarkan durabilitas menghadapi waktu, pionir budaya populer yang dapat mempertahankan dirinya bila pesaing yang kemudian muncul tidak dapat menyaingi keunikan dirinya, akan bertahan-seperti merek Coca-cola yang sudah ada berpuluh-puluh tahun;
- Profitabilitas, dari sisi ekonomi, budaya populer berpotensi menghasilkan keuntungan yang besar bagi industri yang mendukungnya. (http://www.slideshare.net/andreyuda/media-dan-budaya-populer)
Menurut Ben Agger pemikiran tentang budaya popular dapat dikelompokan menjadi yaitu:
- Budaya dibangun berdasarkan kesenangan namun tidak substansial dan mengentaskan orang dari kejenuhan kerja sepanjang hari.
- Kebudayaan popular menhancurkan kebudayaan tradisional.
- Kebudayaan menjadi masalah besar dalam pandangan ekonomi kapitalis Marx.
- Kebudayaan popular merupakan budaya yang menetes dari atas (Burhan Bungin, 2009: 100).
Kebudayaan popular berkaitan dengan masalah keseharian yang dapat
dinikmati oleh semua orang atau kalangan orang tertentu seperti mega
bintang, kendaraan pribadi, fashion, model rumah, perawatan tubuh, dan
sebagainya. Menurut Ben Agger Sebuah budaya yang akan masuk dunia
hiburan maka budaya itu umumnya menempatkan unsure popular sebagai
unsure utamanya. Budaya itu akan memperoleh kekuatannya manakala media
massa digunakan sebagai penyebaran pengaruh di masyarakat (dalam Burhan
Bungin,2009:100).
* * *
Contoh Budaya Populer
- Berbelanja : Di Inggris dan Amerika, selain menonton televisi, berbelanja merupakan aktivitas pengisi waktu luang yang paling populer. Maka pada zaman ini menjamur banyak mal-mal, restoran, bioskop, persewaan atau penjualan video (VCD, DVD, dll), tempat makan cepat saji, tempat-tempat hiburan, butik, dan sebagainya. Walaupun gaya hidup berbelanja ini bagi beberapa orang muda berarti berkumpul di pusat perbelanjaan lokal tanpa membeli apa yang sedang dijual, melainkan hanya menggunakan ruang publik mal, hanya untuk melihat-lihat atau dilihat-lihat. Di sisi lain, para produksen juga berusaha menciptakan barang yang semakin canggih (makin cepat, makin keren, dll)
- Demam Korea (Korean wave) Demam Korea (Korean wave) : Hal itu diakibatkan karena penyebaran dan pengaruh budaya Korea di Indonesia, terutama melalui produk-produk budaya populer1. Film, drama, musik dan pernak-pernik merupakan contoh dari produk budaya popular. Elemen-elemen budaya populer Korea ini menyebarkan pengaruhnya di negara-negara Asia salah satunya Indonesia. Di Indonesia, penyebaran budaya popular dari negeri gingseng ini dilihat sekitar tahun 2002 dengan tayangnya salah satu ikon budaya popular berbandrol drama seri berjudul „Autumn in My Heart‟ atau „Autumn Tale‟ yang lebih popular dengan judul „Endless Love‟, ditayangkan stasiun TV Indosiar2. Keberhasilan drama seri Korea tersebut yang dikenal dengan Korean drama (K-drama) diikuti oleh Koean drama lainnya. Tercatat terdapat sekitar 50 judul K-drama tayang di tv swasta Indonesia.
- Korean Pop (K Pop) : Setelah keberhasilan menguasai pasar Indonesia dengan dramanya, Korea pun mulai menguasai Indonesia dengan tampilan musik Korea. Korean Pop (Musik Pop Korea) disingkat K-pop, adalah jenis musik populer yang berasal dari Korea Selatan. Banyak artis dan kelompok musik pop Korea sudah menembus batas dalam negeri dan populer di mancanegara. Musik pop Korea pra-modern muncul pertama kali pada tahun 1930-an yang dipengaruhi oleh masuknya musik pop Jepang. Tidak hanya budaya pop Jepang, pengaruh musik pop barat mulai menjajah Korea sekitar tahun 1950-an dan 1960-an. Awalnya berkembang musik bergenre “oldies”, kemudiantahun 1970-an, musik rock diperkenalkan dengan pionirnya adalah Cho Yong-pil.
Muncul kemudian genre musik Trot yang dipengaruhi gaya musik enka
dari Jepang. Tahun 1992 merupakan awal mula musik pop modern di Korea,
yang ditandaidengan kesuksesan grup Seo Taiji and Boys diikuti grup
musik lain seperti Panic,dan Deux. Tren musik ini turut melahirkan
banyak grup musik dan musisi berkualitaslain hingga sekarang.
Di tahun 2000-an mulai bermunculan artis dengan aliran musik yang
berkiblat ke Amerika seperti aliran musik R&B serta Hip-Hop. Mereka
adalah MC Mong, 1TYM, Rain, Big Bang yang cukup sukses di Korea dan luar
negeri. Selain genre musik sebelumnya bertahan, lahir kembali jenis
musik techno memberi nuansa modern.
sumber : blogs.unpad.ac.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar